The Linguistic Vitality of Tatambaken: The Dynamics of Managing Oral Traditions as The Living Heritage of The Minahasa Community
Abstract
Abstrak
Tradisi lisan Tatambaken mewakili identitas sosial budaya masyarakat Minahasa, yang mewujudkan kearifan lokal. Namun, modernisasi mengancam transmisi tradisi ini antar generasi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis vitalitas linguistik Tatambaken dan dinamika pengelolaannya sebagai warisan hidup. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnolinguistik, data dikumpulkan melalui observasi partisipan dan wawancara mendalam di beberapa komunitas adat di Minahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vitalitas Tatambaken berada pada tingkat "rentan", tetapi memiliki ketahanan melalui proses adaptasi fungsinya dalam upacara tradisional dan acara formal. Pengelolaan tradisi ini membutuhkan sinergi antara warisan alami dalam keluarga dan revitalisasi kelembagaan oleh pemerintah daerah.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Bascom, William, R. 1965. Four functions of folklore. In Alan Dundes (Ed.). The study of folklore. New Jersey: Prentice Hall.
Bauman, R. (1977). Verbal Art as Performance. Rowley, MA: Newbury House Publishers.
Bourdieu, P. (1977). Outline of a Theory of Practice. Cambridge: Cambridge University Press.
Braudel, Fernand. 1993. A history of civilizations. (Richard Mayne, Translator). New York: PenguinBooks.
Danarek, Stefan. 2015. Transkripsi. Dalam MPSS Pudentia. Modul: Tradisi lisan Nusantara dan warisan budaya. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan.
Dijk, Teun A. Van (Ed.). 1985. Handbook of discourse analysis: disciplines of discourse (Vol. 1). London: Academic Press.
Finnegan, Ruth. 1992. Oral traditions and the verbal arts: A guide to research practices. London: Routledge.
Foley, John Miles. 1995. The singer of tales in performance. Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press.
Fox, James J. 1986. Bahasa, sastra, dan sejarah: Kumpulan karangan mengenai masyarakat pulau Roti. Jakarta: Djambatan.
Genette, Gerard. 1980. Narrative discourse: An essay in method. New York: Cornell University Press.
Halbwachs, M. (1992). On Collective Memory. Chicago: University of Chicago Press.
Hymes, D. H. 1989. Foundations in sociolinguistics: an ethnographic approach. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
Jakobson, Roman. 1992. Linguistik dan Bahasa Puitik dalam Panuti Sudjiman dan Aart Van Zoest (Ed.). Serba-serbi Semiotika. Jakarta: Gramedia Pustaka
Kalangi, A. S., & Rundengan, J. (2021). Konstruksi Makna dalam Tradisi Lisan Masyarakat Minahasa: Studi Etnolinguistik. Jurnal Lingua Idea, 12(1), 45-58.
Kaplan, David dan Albert A. Manners. 1999. Teori budaya. (Landung Simatupang, Penerjemah). Yogyakarta: Pusat Pelajar.
Lofland, John dan Lyn H. Lofland. 1984. Analysing social settings: A guide to qualitative observation and analysis. Belmont, California: Wadsworth Pub.
Lomban, M. R. (2020). Pelestarian Bahasa Daerah Minahasa melalui Media Digital: Peluang dan Tantangan. Jurnal Aksara, 32(2), 210-225. Pangalila, T. (2018). Kearifan Lokal Masyarakat Minahasa dalam Memperkokoh Ketahanan Nasional. Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan, 15(1), 78-86.
Lord, A. B. (2000). The Singer of Tales. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Lord, Albert B. 2000. The singer of tales (2nd Ed.). Cambridge Massachusetts: Harvard University Press.
Moleong. Lexy J. 1990. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Ong, W. J. (2012). Orality and Literacy: The Technologizing of the Word. London:
Pudentia, MPSS (editor). 2015. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Ratunuman, D. (2022). Dinamika Pergeseran Nilai Budaya pada Tradisi Tutur Minahasa di Era Disrupsi. Kajian Sastra dan Budaya, 9(3), 112-128.
Routledge. Vansina, J. (1985). Oral Tradition as History. Madison: University of Wisconsin Press.
Sibarani, Robert. 2014. Kearifan Lokal: Hakikat, Peran, dan Metode Tradisi Lisan (Ed. II). Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).
Spradley, James P. 2007. Metode etnografi (Ed. II). (Mizbah Zulfa Elizabeth, Penerjemah). Yogyakarta: Tiara Wacana.
Tumengkol, S. M. (2019). Strategi Pengelolaan Warisan Budaya Takbenda Berbasis Komunitas di Sulawesi Utara. Jurnal Sosialisasi, 6(2), 15-24.
UNESCO. (2003). Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage. Paris: UNESCO. UNESCO. (2011). Language Vitality and Endangerment. Document submitted to the International Expert Meeting on UNESCO Programme Safeguarding of Endangered Languages. Paris. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Vansina, Jan. 1973. Oral tradition: A study in historical methodology (3rd ed.). (H.M. Wright, Translator). Middlesex: Penguin Books Ltd.
Watuseke, F. S. 1975. Tondanose Liederen - En Tetabaken Né Toudano. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde, 131 (2/3), 236–246. http://www.jstor.org/stable/27862980
Watuseke, F.S. 1980. Minahasische liederen uit Tonséa’, Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, 136(2-3), 353-371. DOI: https://doi.org/10.1163/22134379-90003529
Wenas, Jessy. 2007. Sejarah dan Kebudayaan Minahasa. Minahasa: Institut Seni Budaya Sulawesi Utara.
DOI: https://doi.org/10.26499/rnh.v14i2.7023
Refbacks
- There are currently no refbacks.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Ranah: jurnal Kajian Bahasa diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bekerja sama dengan Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia dan Pengajarannya (PPJB-SIP) is licensed under CC BY-SA 4.0
©2017a
Sekretariat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Pos-el: jurnalranahbahasa@gmail.com
Telepon: (021) 4706287







