Exploring the Linguistic Landscape of Hotel Names in Bandung City: Sociolinguistic Functions and Language Use
Abstract
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis aspek sosiolinguistik di balik nama-nama hotel di Kota Bandung, Indonesia, dengan menggunakan pendekatan linguistik lanskap. Data penelitian dibatasi hanya berfokus pada teks nama hotel bintang empat dan lima di kota Bandung. Dengan menggunakan teori linguistik lanskap yang diusung oleh Landry and Bourhis (1997), artikel ini menganalisis nama-nama hotel yang terdiri atas 61 nama hotel bintang empat dan 13 nama hotel bintang lima di kota Bandung, yang dikumpulkan dengan menggunakan aplikasi Botsol Crawler. Guna menghasilkan analisis yang komprehensif, penelitian kualitatif dilakukan dengan pendekatan wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan Bahasa Inggris menjadi Bahasa yang paling dominan muncul dan digunakan dalam nama-nama hotel, baik berbentuk monolingual, bilingual, atau multilingual. Selain itu, penelitian ini juga mengungkap bahwa fungsi informasi yang muncul pada nama-nama hotel di Bandung paling banyak merepresentasikan nama pemilik atau manajemen hotel dan lokasi hotel. Sementara untuk fungsi simbolik didominasi oleh preservasi warisan kolonial, budaya sunda, dan modernitas. Penelitian ini juga menemukan bahwa aturan penggunaan Bahasa Indonesia atau Bahasa daerah di kawasan publik belum benar-benar dipatuhi. Melalui penelitian ini, implikasi penelitian dan rekomendasi bagi pemerintah daerah juga turut didiskusikan.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Andriyanti, E. (2019). Linguistic landscape at Yogyakarta’s senior high school in multilingual context: Patterns and representation. Indonesian Journal of Applied Linguistics, 3 (1), 85-97.
Arianto, Ahmad Khoironi (2023). Potret Lanskap Penamaan Hotel di Yogyakarta: Bentuk Penyimpangan dan Pembinaan Bahasa. Caraka: Jurnal Ilmu Kebahasaan, Kesastraan, dan Pembelajarannya, 10(1), 2023, 235-247. https://jurnal.ustjogja.ac.id/index.php/caraka.
Azaryahu, M. (1996). The power of commemorative street names: Environment and planning. Society and Space, 14, 311-330.
Ben-Rafael, E. (2009). A sociological approach to the study of linguistic landscape. In E. Shohamy & D. Gorter (Eds.), Linguistic landscape: Expanding the scenery (pp. 40-54). London: Routledge.
Blommaert, J. (2013). Ethnography, superdiversity and linguistic landscapes chronicles of complexity. Multilingual Matters. Jurnal Arsitektur Archicentre. 3(2), 2020, 64-72.
Cenoz, J. & Gorter, D. (2006). Linguistic landscape and minority languages. International Journal of Multilingualism, 3(1), 67-80.
da Silva, Anna Marietta., Tjung, Yassir Nasanius., Wijayanti, Sri Hapsari., & Suwarto, Christiany. (2021). Language use and tourism in Yogyakarta: The Linguistic Landscape of Malioboro. Wacana, 22(2), 295-318.
Edelman, L. 2010. Linguistic landscape in the Netherlands; A study of multilingualism in Amsterdam and Friesland. Utrecht: LOT.
Gorter, D. (2006). Linguistic landscape: A new approach to multilingualism. Clevedon: Multilingual Matters.
Huebner, T. (2006). Bangkok’s linguistic landscape: Environmental print, code-mixing and language change. International Journal of Multilingualism, 3(1), 31-51.
Ikuta, A. 2010. Visitor sign; Comparison of visitor signs in Helsinki and Kyoto. Vaasa: Vaasan Ammattikorkeakoulu-Vasa Yrkeshogsköla.
Izzati, Husna., & Nurjaman, Andri. (2020). Kajian Prinsip Arsitektur Analogi pada Massa Bangunan Hotel U Janevalla Bandung.
Landry, R., & Bourhis, R. Y. (1997). Linguistic landscape and ethnolinguistic vitality: An empirical study. Journal of Language and Social Psychology, 16(1), 23–49. https://doi.org/10.1177/ 0261927X970161002.
Nurhuda, D. A., & Firdaus, W. (2023). Penamaan Domba sebagai Media Rekonstruksi Sejarah dan Budaya: Kajian Zoonimi di Kabupaten Garut (Name of Sheep as a Media of Historical and Culture Reconstruction: A Zoonymy Study in Garut District). SAWERIGADING, 29(1), 97-110.
Paramartaa, I Made Suta Paramartaa., Artawa Ketut, Satyawatib., Made Sri, Satyawati., Purnawati, Ketut Widya., & Adijaya, Made Aryawan. (2023). Geosemiotic analysis of commercial outdoor signs in north Bali urban area, Indonesia. Kasetsart Journal of Social Sciences, 44, 965–974.
https://so04.tci-thaijo.org/index.php/kjss/article/view/267929.
Purnanto, Dwi., & Ardhian, Dany. (2020). Linguistic Landscape in Hotel Names in Malang City, Indonesia: Form and Function. International Journal of Innovation, Creativity and Change, 14(5), 357-374. https://www.ijicc.net/.
Ruzaitė, J. 2017. “The linguistic landscape of tourism; Multilingual signs in Lithuanian and Polish resorts”, ESUKA-JEFUL Vol. 8 No. 1 (March): 197-220.
Salim, M.A., N.A. Ibrahim, and H. Hassan. 2012. Language for tourism; A review of literature, Procedia-Social and Behavioral Sciences, 66, 136-143.
Sartono. 2018. “Penggunaan bahasa di ruang publik kota Surakarta; Kajian lanskap linguistik”. MA thesis, University of Indonesia.
Scollon, R. & Scollon, S. (2003). Discourses in place: Language in the material world. In E. G. Shohamy, E. B. Ben-Rafael, & M. Barni (Eds.), Linguistic landscape in the city. Bristol: Routledge.
World Tourism Organization. 2001. Tourism signs and symbols; A status report and guidebook. Madrid: World Tourism Organization.
Yannuar, N. 2018. “Wòlak-waliké jaman; Exploring contemporary Walikan in public space”, Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol 19 No. 1: 100-121.
DOI: https://doi.org/10.26499/rnh.v14i1.7557
Refbacks

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Ranah: jurnal Kajian Bahasa diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bekerja sama dengan Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia dan Pengajarannya (PPJB-SIP) is licensed under CC BY-SA 4.0
©2017a
Sekretariat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Pos-el: jurnalranahbahasa@gmail.com
Telepon: (021) 4706287







