Komparasi Lanskap Linguistik Wilayah Entikong dan Tebedu sebagai Potret Negosiasi Identitas di Perbatasan Indonesia-Malaysia
Abstract
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan lanskap linguistik di wilayah Entikong (Indonesia) dan Tebedu (Malaysia) sebagai bentuk representasi negosiasi identitas di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-komparatif. Adapun pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif dan dokumentasi visual yang dilakukan di wilayah Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat dan Tebedu, Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Data yang terkumpul kemudian dianalisis berdasarkan konsep lanskap linguistik Landry & Bourhis yang terdiri atas fungsi informatif dan simbolis terhadap penanda linguistik ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lanskap linguistik di Entikong merepresentasikan pesan simbolik seperti nasionalisme, kampanye anti-korupsi dan anti-narkoba, penghormatan pahlawan, serta penguatan mata uang Rupiah. Sebaliknya, lanskap linguistik di Tebedu menampilkan pesan simbolik dalam bentuk lebih terbatas melalui penanda-penanda petunjuk arah, petunjuk penggunaan, imbauan, larangan, ikon budaya lokal, dan slogan politik setempat. Perbedaan ini menegaskan bahwa Entikong menjadikan bahasa sebagai sarana ideologi negara, sementara Tebedu memosisikan bahasa ruang publik sebagai sarana komunikasi fungsional.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Aim, H. A. Z., Haryono, W. S., & Patramijaya, A. (2025). Prevention of foreigners entry into Indonesian territorial area illegally. JILPR Journal Indonesia Law and Policy Review, 6(2). https://doi.org/10.56371/jirpl.v6i2.388
Álvarez-Pérez, X. A. (2021). Language contact on the Spanish-Portuguese border. In Convergence and divergence in Ibero-Romance across contact situations and beyond (pp. 115-146). De Gruyter. https://doi.org/10.1515/9783110736250-005
Anam, A. K., Purnama, Y., & Hilaliyah, H. (2024). Lanskap linguistik di Stadion Patriot Candrabhaga Kota Bekasi. Indonesian Language Education and Literature, 10(1), 21. https://doi.org/10.24235/ileal.v10i1.15054
Angelina, T. (2024). Strategi pertahanan Indonesia melalui pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong dalam perspektif geostrategi [Doctoral dissertation, Universitas Kristen Satya Wacana].
Anuar, A. R., & Raharjo, S. N. I. (2022). Indonesia-Malaysia cross-border governance during the COVID-19 pandemic. Journal of International Studies, 18(4). https://doi.org/10.32890/jis2022.18.4
Azaryahu, M. (1996). The power of commemorative street names. Environment and Planning D: Society and Space, 14(3), 311-330. https://doi.org/10.1068/d140311
Bangun, B. H. (2022). Studi sosio-legal terhadap pengaturan dan pola perdagangan lintas batas negara di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 8(1), 139-160. https://doi.org/10.23887/jkh.v8i1.43606
Bayuardi, G. (2020). Ikatan kekerabatan suku Dayak Bidayuh di perbatasan Entikong dan Tebedu. Pustaka Abadi.
Brooker, D. (2012). "Build it and they will come"? A critical examination of utopian planning practices and their socio-spatial impacts in Malaysia's "intelligent city." Asian Geographer, 29(1), 39-56. https://doi.org/10.1080/10225706.2012.659192
Budiono, S., & Firdaus, W. (2022). Penanda identitas dalam penamaan wilayah administrasi di Kabupaten Sanggau. Linguistik Indonesia, 40(2), 227-243.
Finambello, F., & Suprojo, A. (2019). Analisis pengaruh pembangunan pos lintas batas negara terhadap peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat perbatasan. JISIP, 8(2), 79-87.
Hilaliyah, H., Setiawati, S., & Muzaki, A. (2025). Bahasa ruang publik dan identitas kearifan lokal di perbatasan: Studi lanskap linguistik di wilayah perbatasan Kalimantan Barat dengan Malaysia (Penelitian Fundamental Reguler).
Hilaliyah, H., Sumadyo, B., & Rohmah, L. U. (2025). Bentuk dan kesalahan penggunaan bahasa di Museum Kebaharian Jakarta Situs Marunda Rumah Si Pitung: Suatu kajian lanskap linguistik. Deiktis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 5(2), 555-567.
Hu, H. (2023). 'Linguistic Landscapes in South-East Asia: The politics of language and public signage' Seyed Hadi Mirvahedi (ed.) (2022). Sociolinguistic Studies, 17(4), 481-485. https://doi.org/10.1558/sols.25576
Landry, R., & Bourhis, R. Y. (1997). Linguistic landscape and ethnolinguistic vitality. Journal of Language and Social Psychology, 16(1), 23-49. https://doi.org/10.1177/0261927X970161002
Lapasau, M., & Setiawati, S. (2022). Translation of culture-specific items in Laskar Pelangi from Indonesian into German. In Proceedings of the 1st Konferensi Internasional Berbahasa Indonesia Universitas Indraprasta PGRI, KIBAR 2020, 28 October 2020, Jakarta, Indonesia. https://doi.org/10.4108/eai.28-10-2020.2315323
Martins, A., Erom, K., Bustan, F., & Gomes, A. (2024). Exploring multilingualism in advertising signs: A linguistic landscape analysis at Timor Plaza, Dili, Timor-Leste. Academic Journal of Educational Sciences, 8(2), 44-54. https://doi.org/10.35508/ajes.v8i2.20284
Muta'Ali, L., Marwast, D., & Christanto, J. (2018). Pengelolaan wilayah perbatasan NKRI. UGM Press.
Muzaki, A., Zuryati, Z., & Rohman, S. (2022). Bahasa Betawi Depok: Tinjauan dari perspektif filsafat bahasa Hans-Georg Gadamer. Literatus, 4(2), 664-669. https://doi.org/10.37010/lit.v4i2.895
Noveria, M. (2017). Kedaulatan Indonesia di wilayah perbatasan: Perspektif multidimensi. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Purnama, Y., & Anam, A. K. (2025). Multilingualisme penamaan toko di Margonda, Kota Depok, Jawa Barat: Kajian lanskap linguistik. Hortatori: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 9(1), 1-10.
Putri, L., Nurlukman, A. D., Amiludin, A., & Aditya, T. (2024). Enhancing security, economy, and education: A policy analysis of the Indonesia-Malaysia border region. Lex Scientia Law Review, 8(2), 743-776. https://doi.org/10.15294/lslr.v8i2.11039
Romero, O., Berra, J., & Speed, S. (2022). Indigenous rights and language sovereignty. In Human rights (pp. 319-342). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/hepl/9780190085469.003.0018
Ross, M. A. (2024). Politics in the linguistic landscape of Dili, Timor-Leste. In Space-time (dis)continuities in the linguistic landscape (pp. 71-94). Routledge.
https://doi.org/10.4324/9781003311621-6
Sabri, A. H. S., & Shaari, M. F. (2025). Depth analysis of border security space planning for the Malaysia-Thailand border in Rantau Panjang, Malaysia. Built Environment Journal, 21(SI). https://doi.org/10.24191/bej.v21iSI.2447
Savski, K. (2024). (Trans)languaging, power, and resistance: Bordering as discursive agency. Language in Society, 53(3), 371-393. https://doi.org/10.1017/S004740452300012X
Shohamy, E. (2010). Linguistic landscape in the city. Multilingual Matters.
https://doi.org/10.21832/9781847692993
Soares, A. C. (2024). Monolingual used on the historical sites in Dili, Timor-Leste: A study of linguistics landscape. Humanities & Language: International Journal of Linguistics, Humanities, and Education, 1(2), 97-104. https://doi.org/10.32734/9gg54y26
Spolsky, B., & Cooper, R. L. (1994). The languages of Jerusalem (review). Hebrew Studies, 35(1), 224-227. https://doi.org/10.1353/hbr.1994.0043
Steciąg, M., & Karmowska, A. (2020). Lingua materna, lingua receptiva, lingua franca, multilingua franca? The linguascape of the Polish-Czech borderland from the perspective of sustainable multilingualism. Sustainable Multilingualism, 16(1), 21-38. https://doi.org/10.2478/sm-2020-0002
Sudarmanto, B. A., Wahyuni, T., Aji, E. N. W., Murdowo, D. A., Hendrastuti, R., Artawa, K., & Benu, N. N. (2023). The languages on the border of Indonesia and Timor Leste: A linguistic landscape study. Cogent Arts & Humanities, 10(2). https://doi.org/10.1080/23311983.2023.2273145
Taylor-Leech, K. J. (2012). Language choice as an index of identity: Linguistic landscape in Dili, Timor-Leste. International Journal of Multilingualism, 9(1), 15-34. https://doi.org/10.1080/14790718.2011.583654
Warsilah, H., & Wardiat, D. (2017). Pembangunan sosial di wilayah perbatasan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Yanti, P. G., Ibrahim, N., & Rahman, F. (2019). Nationalism study of primary students in the border area of West Kalimantan-Indonesia and Malaysia. International Journal of Scientific and Technology Research, 8(12).
Yanti, P. G., Ibrahim, N., Safii, I., Rahman, F., & Zabadi, F. (2022). Local wisdom in Kalimantan community rites at the country border: Basis and strengthening attitude to defend the country. Przestrzeń Społeczna (Social Space), 22(1), 364-382.
Yanti, P. G., Safii, I., Ermawati, I. R., Rahman, F., Zabadi, F., & Hidayati, D. W. (2025). Codification of local wisdom themes in Indonesian language teaching materials to foster national defense spirit in border regions. Journal of Ecohumanism, 4(1), 3335-3347.
Yuniarti, D. (2019). Dampak penutupan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk terhadap sosial ekonomi keluarga pekerja migran Indonesia di masa pandemi COVID-19. Cross-Border, 2(2), 258-273.
DOI: https://doi.org/10.26499/rnh.v14i2.8382
Refbacks
- There are currently no refbacks.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Ranah: jurnal Kajian Bahasa diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bekerja sama dengan Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia dan Pengajarannya (PPJB-SIP) is licensed under CC BY-SA 4.0
©2017a
Sekretariat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Pos-el: jurnalranahbahasa@gmail.com
Telepon: (021) 4706287







